Wednesday, October 11, 2017

digitalisasi hadits

      
    
Hasrat manusia untuk melakukan segala secara instan juga mempengaruhi pola kehidupan umat manusia. Slogan serba instan sudah terbiasa tergaung di mana-mana, mulai dari mie instan hingga politikus-politikus instan kerap kali kita dengar. Sebenarnya tidak buruk juga sesuatu yang instan tersebut. Namun tentu saja setiap hal punya dua sisi mata uang, ada baiknya tentu saja ada buruknya. Sesuatu yang cepat, siap pakai mempunyai beberapa kekurangan tentunya. Diantara sekarang yang instan juga terdapat pada unsur agama, yaitu dalam hal digitalisasi. Digitalisasi yang menitik beratkan karena kepraktisan dan ekonomis.
           Pemikiran ekonomis dalam teknologi ini selalu berusaha dikolaborasikan menjadi sebuah paket yang siap dihadirkan dipasaran, murah dan berteknologi  tinggi. Kemudahan-kemudahan ini juga yang diinginkan manusia modern. Dalam islam juga diajarkan prinsip serupa dengan ekonomis, sesungguhnya  yang berlebih-lebihan adalah temannya syaitan.
 “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Al-Isra: 27)
            Tapi, dampak perkembangan teknologi juga tidak selamanya baik. Implikasinya, adalah bahwa seluruh hasil tekhnologi dan eksplorasi tidak akan bersikap deskruktif, artinya tetap selaras dengan keseimbangan. Jadi, manusia tetap wajib menegakkan keislamannya kepada Allah, sebagai khalifah dimuka bumi yang diberi wewenang untuk mengurusi bumi dan menegakkan kebudayaan baik itu dalam tekhnologi setinggi-tingginya, namun dalam batasan-batasan yang diijinkan oleh Allah.
A.  Digitalisasi Hadist
            Dalam peribahasa disebutkan, zaman beralih, musim bertukar. Jadi mungkin dulu sekolah hanya bertumpu pada guru dan buku namun sekarang dengan kurikulum KTSP para peserta didik dituntup lebih mandiri. Dalam perkembangan pendidikan ini juga mulai hilang garis pemisah antara guru dan murid. Manusia modern yang mulai menyadari bahwa bukan hanya buku sumber ilmu pengetahuan, inilah yang melandasi digitalisasi Hadist. Digitalisasi Hadits adalah kegiatan dalam rangka mempermudah bagi yang ingin mempelajari hadits, dalam praktek penggunaannya dalam bentuk digital. Pada perkembangannya bentuk-bentuk digitalisasi Hadist yang ada saat ini dapat berupa:
1.    Software Hadist
2.    SMS Tausiah Hadist
3.    MP3 Hadist
4.    CD interaktif Hadist
  
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang muslim seharusnya menjadikan Hadist sebagai pegangan mereka selain Al-Qur’an. Sebuah tuntunan yang diajarkan nabi dalam sunahnya merupakan warisan sepanjang zaman bagi umat islam. Pegangan yang harus dijaga oleh tiap muslim, sebagai jalan menuju muslim yang kaffah.
B.  Kelebihan dan Kekurangan Digitalisasi Hadits
Ajaran Islam ikut kuat mendorong dan menuntun perkembangan sains dan tekhnologi. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, tetapi tetap memikul tugas pokok sebagai hamba Allah yang wajib hanya beribadah kepada-Nya saja. Artinya bahwa segala bentuk dan macam hasil sains dan eksplorasi alam itu tetap dalam kerangka untuk mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah, sehingga hasil dari seluruh pencapaian itu tidak kehilangan nilai terhadap Tuhan, sebab apa, untuk tetap mengingatkan manusia bahwa apa-apa yang dilakukan dan dicapainya itu semata-mata karena pemberian dari ijin Allah.
            Jadi, digitalisasi ini dilakukan hanyalah sebagai alat yang sangat berguna untuk melancarkan dan meningkatkan ibadah kepada Allah.
            Namun, dalam konteks tekhnologi, jika pengembangan tekhnologi dan sains tidak diiringi dengan kesadaran hidup beragama tentulah martabat manusia akan merosot secara drastis. Artinya, bahwa tekhnologi yang pada awalnya ditujukan untuk mempermudah dan memperingan kegiatan dan keinginan manusia dalam memperoleh sesuatu hal dalam kehidupan sehari-harinya agar hidupnya lebih tentram dan bahagia, justru akan menjadi alat penghancur bagi diri manusia itu sendiri. Karena begitu ketergantungannya kita terhadap tekhnologi.
            Namun sisi positifnya, penyebaran tekhnologi akan membawa kita ke suatu peradaban elektronik, suatu peradaban yang lebih tinggi.
            Di Abad 21, abad pertama dari millennium ketiga, yang penuh dengan gejolak tekhnologi. Tekhnologi yang pada ujungnya mungkin akan melahirkan mesin-mesin super cerdas yang mengabdi pada manusia awalnya, namun seiring dengan berjalannya tekhnologi apalagi zaman digital sekarang manusialah yang tak bisa lepas dari alat-alat tekhnologi.
            Tentulah diperlukan adanya tanggung jawab masing-masing orang. Tanggung jawab disini merupakan manifestasi dari kebebasan berpikir, maksudnya ada suatu demokrasi ilmiah sehingga setiap individu tidak melepaskan diri dari segala sesuatu yang dikerjakan sekaligus juga memberi kesempatan kepada yang lain untuk mewujudkan eksistensinya tanpa harus meniadakan dan melangkahi lainnya, terhadap Allah dan sesamanya. Dengan mengacu pada baik dan buruk pada tekhnologi itu, dalam hal ini sistem digital yang bertujuan untuk mempermudah manusia.
1.      Kelebihan digitalisasi hadits :
a.       Lebih praktis digunakan, karena bisa dibawa kemana-mana
b.      Perkembangan tekhnologi yang begitu pesat, membuat aplikasi hadits lebih mudah dicerna karena pembagian yang sistematis, misalnya Lidwa Pusaka (Lembaga Ilmu dan Dakwah serta Publikasi Sarana Keagamaan) dengan usaha penerjemahan dan digitalisasi Kitab Hadits dari 9 Imam Hadits termasyhur (Kutubut Tis’ah)
c.       Ekonomis, karena kita tak perlu lagi ke perpustakaan atau toko buku bersusah payah untuk mencari hadits yang diinginkan. Karena sekarang cukup mendownload saja.
2.      Kekurangan digitalisasi hadits :
a.         Kita terlalu sering bergantung dengan adanya tekhnologi, sehingga kadang shalat pun jadi lalai.
b.         Kesakralan pada kitab yang kita pegang langsung, Al-Qur’an dan hadits khususnya jadi pudar, karena terkalahkan oleh kecanggihan tekhnologi. Sehingga kita jadi malas berwudhu, karena yang kita pegang bukan kitabnya melainkan hanya software yang terdapat dalam hp.
c.         Terdapat sifat malas terhadap diri individu untuk mengkaji hadits lebih dalam.
d.        Masih banyak kajian hadits yang belum seluruhnya ada, hanya sebagian saja yang bisa di dapatkan oleh tekhnologi.






This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon