Hasrat manusia untuk melakukan segala
secara instan juga mempengaruhi pola kehidupan umat manusia. Slogan “serba instan” sudah
terbiasa tergaung di mana-mana, mulai dari mie instan hingga
politikus-politikus instan kerap kali kita dengar. Sebenarnya tidak buruk juga
sesuatu yang instan tersebut. Namun tentu saja setiap hal punya dua sisi mata
uang, ada baiknya tentu saja ada buruknya. Sesuatu yang cepat, siap
pakai mempunyai beberapa kekurangan tentunya. Diantara sekarang yang instan juga terdapat pada unsur agama,
yaitu dalam hal digitalisasi. Digitalisasi yang menitik beratkan karena
kepraktisan dan ekonomis.
Pemikiran
ekonomis dalam teknologi ini selalu berusaha
dikolaborasikan menjadi sebuah paket yang siap dihadirkan dipasaran, murah dan
berteknologi tinggi. Kemudahan-kemudahan ini juga yang
diinginkan manusia modern. Dalam islam juga diajarkan prinsip serupa dengan
ekonomis, sesungguhnya yang berlebih-lebihan adalah temannya syaitan.
“Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah
sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Al-Isra: 27)
Tapi, dampak perkembangan teknologi juga tidak selamanya baik. Implikasinya,
adalah bahwa seluruh hasil tekhnologi dan eksplorasi tidak akan bersikap
deskruktif, artinya tetap selaras dengan keseimbangan. Jadi, manusia tetap
wajib menegakkan keislamannya kepada Allah, sebagai khalifah dimuka bumi yang
diberi wewenang untuk mengurusi bumi dan menegakkan kebudayaan baik itu dalam
tekhnologi setinggi-tingginya, namun dalam batasan-batasan yang diijinkan oleh
Allah.
A. Digitalisasi
Hadist
Dalam peribahasa disebutkan, zaman beralih, musim bertukar. Jadi mungkin dulu
sekolah hanya bertumpu pada guru dan buku namun
sekarang dengan kurikulum KTSP para peserta didik dituntup lebih mandiri. Dalam
perkembangan pendidikan ini juga mulai hilang garis pemisah antara guru dan
murid. Manusia modern yang mulai menyadari bahwa bukan hanya buku sumber ilmu
pengetahuan, inilah yang melandasi digitalisasi Hadist. Digitalisasi Hadits
adalah kegiatan dalam rangka mempermudah bagi yang ingin mempelajari hadits, dalam
praktek penggunaannya dalam bentuk digital. Pada perkembangannya bentuk-bentuk
digitalisasi Hadist yang ada saat ini dapat berupa:
1.
Software Hadist
2.
SMS Tausiah Hadist
3.
MP3 Hadist
4.
CD
interaktif Hadist
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
seorang muslim seharusnya menjadikan Hadist sebagai pegangan mereka selain Al-Qur’an. Sebuah tuntunan yang diajarkan nabi dalam
sunahnya merupakan warisan sepanjang zaman bagi umat islam. Pegangan yang harus
dijaga oleh tiap muslim, sebagai jalan menuju muslim yang kaffah.
B.
Kelebihan dan Kekurangan Digitalisasi Hadits
Ajaran Islam ikut kuat mendorong
dan menuntun perkembangan sains dan tekhnologi. Islam mengajarkan bahwa manusia
adalah khalifah di muka bumi, tetapi tetap memikul tugas pokok sebagai hamba
Allah yang wajib hanya beribadah kepada-Nya saja. Artinya bahwa segala bentuk
dan macam hasil sains dan eksplorasi alam itu tetap dalam kerangka untuk
mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah, sehingga hasil dari seluruh
pencapaian itu tidak kehilangan nilai terhadap Tuhan, sebab apa, untuk tetap
mengingatkan manusia bahwa apa-apa yang dilakukan dan dicapainya itu
semata-mata karena pemberian dari ijin Allah.
Jadi,
digitalisasi ini dilakukan hanyalah sebagai alat yang sangat berguna untuk
melancarkan dan meningkatkan ibadah kepada Allah.
Namun, dalam
konteks tekhnologi, jika pengembangan tekhnologi dan sains tidak diiringi
dengan kesadaran hidup beragama tentulah martabat manusia akan merosot secara
drastis. Artinya, bahwa tekhnologi yang pada awalnya ditujukan untuk
mempermudah dan memperingan kegiatan dan keinginan manusia dalam memperoleh
sesuatu hal dalam kehidupan sehari-harinya agar hidupnya lebih tentram dan
bahagia, justru akan menjadi alat penghancur bagi diri manusia itu sendiri.
Karena begitu ketergantungannya kita terhadap tekhnologi.
Namun sisi
positifnya, penyebaran tekhnologi akan membawa kita ke suatu peradaban
elektronik, suatu peradaban yang lebih tinggi.
Di Abad 21,
abad pertama dari millennium ketiga, yang penuh dengan gejolak tekhnologi.
Tekhnologi yang pada ujungnya mungkin akan melahirkan mesin-mesin super cerdas
yang mengabdi pada manusia awalnya, namun seiring dengan berjalannya tekhnologi
apalagi zaman digital sekarang manusialah yang tak bisa lepas dari alat-alat
tekhnologi.
Tentulah
diperlukan adanya tanggung jawab masing-masing orang. Tanggung jawab disini
merupakan manifestasi dari kebebasan berpikir, maksudnya ada suatu demokrasi
ilmiah sehingga setiap individu tidak melepaskan diri dari segala sesuatu yang
dikerjakan sekaligus juga memberi kesempatan kepada yang lain untuk mewujudkan
eksistensinya tanpa harus meniadakan dan melangkahi lainnya, terhadap Allah dan
sesamanya. Dengan mengacu pada baik dan buruk pada tekhnologi itu, dalam hal
ini sistem digital yang bertujuan untuk mempermudah manusia.
1.
Kelebihan digitalisasi hadits :
a.
Lebih praktis digunakan, karena bisa dibawa kemana-mana
b.
Perkembangan tekhnologi yang begitu pesat, membuat aplikasi
hadits lebih mudah dicerna karena pembagian yang sistematis, misalnya Lidwa Pusaka (Lembaga
Ilmu dan Dakwah serta Publikasi Sarana Keagamaan) dengan usaha
penerjemahan dan digitalisasi Kitab Hadits dari 9 Imam Hadits termasyhur
(Kutubut Tis’ah)
c.
Ekonomis,
karena kita tak perlu lagi ke perpustakaan atau toko buku bersusah payah untuk
mencari hadits yang diinginkan. Karena sekarang cukup mendownload saja.
2.
Kekurangan digitalisasi hadits :
a.
Kita terlalu sering bergantung dengan adanya tekhnologi,
sehingga kadang shalat pun jadi lalai.
b.
Kesakralan pada kitab yang kita pegang langsung, Al-Qur’an dan
hadits khususnya jadi pudar, karena terkalahkan oleh kecanggihan tekhnologi.
Sehingga kita jadi malas berwudhu, karena yang kita pegang bukan kitabnya
melainkan hanya software yang terdapat dalam hp.
c.
Terdapat sifat malas terhadap diri individu untuk mengkaji
hadits lebih dalam.
d.
Masih banyak kajian hadits yang belum seluruhnya ada, hanya
sebagian saja yang bisa di dapatkan oleh tekhnologi.

EmoticonEmoticon